Bimbingan Pra Nikah Remaja Usia : Mempersiapkan Generasi Muda Menuju Kehidupan Pernikahan yang Sukses

Editor: Redaksi author photo

Bimbingan Pra Nikah Remaja Usia : Mempersiapkan Generasi Muda Menuju Kehidupan  Pernikahan yang Sukses

KALBARNEWS.CO.ID (YOGYAKARTA)
– Sebanyak lebih dari 80 mahasiswa mengikuti Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN) yang diselenggarakan oleh MarkPlus Islamic dalam pagelaran Indonesia Marketing Festival (IMF) 2024 Yogyakarta bersama Kementerian Agama (Kemenag) di Auditorium AGLC Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. (31 Juli 2024).

 

Acara ini dirancang untuk memberikan bekal mental dan keterampilan bagi remaja yang memasuki usia siap menikah.


Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN) bertujuan untuk mendorong pendewasaan usia nikah dan memfasilitasi remaja untuk mempersiapkan diri memasuki dunia perkawinan. Program ini khusus ditujukan untuk remaja berusia di atas 19 tahun yang belum mendaftarkan kehendak nikah.

 

Sejak tahun 2020, Kemenag telah melakukan berbagai transformasi untuk meningkatkan kualitas layanan dan program-programnya. Alissa Qatrunnada Wahid, Staf Khusus Menteri Agama, menjelaskan bahwa transformasi ini melibatkan revitalisasi KUA, penguatan program untuk pesantren, pendidikan agama, serta penerapan transformasi digital dan pelayanan.

 

"Dalam proses transformasi ini, Kemenag menggandeng MarkPlus untuk pengelolaan organisasi. Transformasi kelembagaan pemerintah memang lebih menantang dibandingkan dengan perusahaan karena tidak adanya bottom line yang jelas," ungkap Alissa.

 

Salah satu topik penting dalam BRUN adalah kesiapan pribadi dalam menghadapi pernikahan. Nurmey Nurulchaq, Psikolog dan Instruktur Bina Keluarga Sakinah Kemenag, dari Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam menekankan pentingnya self-awareness atau kesadaran diri.

 

"Self-awareness akan memunculkan social awareness, yang esensial dalam membangun hubungan yang sehat. Kesiapan pernikahan bukan hanya tentang mendapatkan pasangan yang tepat, tetapi lebih pada kesiapan kita untuk menjadi pasangan yang tepat," jelas Nurmey.

 

Dia juga menggarisbawahi bahwa adaptasi dalam pernikahan tidak hanya penting pada awalnya tetapi harus berlanjut sepanjang pernikahan.

 

"Penting untuk membuat keputusan secara deliberatif dan berbasis negosiasi yang memberdayakan, sehingga kita menghindari keputusan lose-win yang merugikan salah satu pihak," tambahnya.

 

Berdasarkan data dari badan pengadilan agama, penyebab utama perceraian meliputi konflik, masalah ekonomi, kurangnya kasih sayang, dan masalah dengan mertua. Nurmey menekankan bahwa penting bagi calon pasangan untuk memiliki keterampilan komunikasi yang baik, kemampuan mengelola konflik, dan pemahaman mendalam tentang diri sendiri serta pasangan.

 

Kemenag juga memperkenalkan program Bangunan Keluarga Sakinah, yang bertujuan untuk mempersiapkan pernikahan sesuai dengan syariat Islam. Program ini fokus pada pengembangan keterampilan komunikasi, pengelolaan konflik, serta pemberdayaan diri dalam konteks hubungan pernikahan.

 

"Tujuan dari program ini adalah untuk menciptakan keluarga yang harmonis dan sesuai dengan nilai-nilai agama. Kesiapan mental dan keterampilan komunikasi yang baik sangat penting untuk mewujudkan pernikahan yang sukses dan bahagia," tutup Nurmey. (Tim Liputan)

Editor : Aan

Share:
Komentar

Berita Terkini