![]() |
Lebaran Ketupat Atau Bodho Kupat Tradisi Warga Jawa Di Sungai Ambawang |
KALBARNEWS.CO.ID (KUBU
RAYA) - Lebaran Ketupat, atau yang dikenal dengan sebutan Bodho
Kupat oleh masyarakat Jawa di Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya,
Kalimantan Barat, merupakan tradisi turun-temurun yang terus dilestarikan
hingga kini.
Perayaan ini berlangsung seminggu
setelah Hari Raya Idulfitri, tepatnya pada 8 Syawal, dan menjadi momen spesial
bagi warga untuk kembali berkumpul, mempererat silaturahmi, dan memperkuat
ikatan kebersamaan.
“Bodho Kupat, Wektu Njaga Roso,
Nambah Sedulur” Ungkap H. Taufik Sukirman, Salah satu Tokoh Masyarakat di Desa Jawa
Tengah Sungai Ambawang, Sabtu (5 April 2025).
H. Taufik Sukirman mengatakan
bahwa dalam tradisi ini, ketupat menjadi simbol utama. Makanan yang terbuat
dari beras dan dibungkus janur ini tidak hanya sekadar sajian, tetapi juga
sarat makna, melambangkan keikhlasan, kesucian hati, serta permohonan maaf yang
tulus antar sesama.
“Masyarakat akan saling bertukar
ketupat dan hidangan khas lainnya seperti opor ayam, sayur lodeh, dan sambal
goreng, lalu menikmati bersama dalam suasana kekeluargaan,” ungkapnya.
Ia menambahkan jika di tradisi
warga jawa disebut Bodho Kupat, atau lebaran ketupat, di warga yang lain juga
disebut lebaran 7 karena dilaksanakan 7 hari setelah lebaran idulfitri.
Bodho Kupat biasanya diawali
dengan doa bersama atau pengajian sebagai bentuk syukur atas berkah Ramadan
yang telah dilalui. Setelah itu, masyarakat dari berbagai latar usia berkumpul
di satu tempat, bisa di rumah tokoh adat, masjid, atau halaman rumah warga, untuk
merayakan kebersamaan.
“Tidak jarang, perayaan ini juga
dimeriahkan dengan kesenian tradisional Jawa seperti Gamelan, Rebana, Seni Barongan
atau pencak silat.
Meski berada jauh dari Pulau
Jawa, warga di Sungai Ambawang tetap menjaga erat identitas budaya mereka.
“Tradisi Bodho Kupat menjadi
bukti bahwa akar budaya bisa tetap tumbuh subur di tanah perantauan. Bukan
hanya sebagai warisan, tetapi juga sebagai jembatan yang mempertemukan nilai
religius, sosial, dan kebudayaan dalam satu perayaan yang sarat makna,” pungkas
H. Taufik Sukirman. (tim liputan).
Editor : Heri